Sri Lanka Bangkrut Karena Salah Prioritas dan Tiga Faktor Ini

Sri Lanka Bangkrut Karena Salah Prioritas dan Tiga Faktor Ini
Sri Lanka Bangkrut Karena Salah Prioritas dan Tiga Faktor Ini

NUSA Online – Beberapa waktu yang lalu membaca sebagian postingan dari sebagian web semacam cnnindonesia.com, liputan6.com, kompas.com, dan lain sebagainya semua memberitakan tentang “Kebangkrutan Sri Lanka” membaca lebih lanjut dari sebagian web penyedia postingan tersebut nyatanya kenyataan tersebut memanglah terdapatnya.

Tetapi sebentar, bila kita berupaya menarik kembali ingatan kita sampai 24 tahun ke balik tepatnya pada tahun 1998 pasti siapapun dari kita sempat mengenali bila negeri Indonesia sempat merasakan akibat terburuk dari krisis moneter yang menyerang pada masa awal- awal digaungkannya masa reformasi.

Langkanya bahan pokok, mahalnya harga bahan pokok, bangkrutnya perusahaan- perusahaan di Indonesia, macetnya kredit sebagian bank di Indonesia, pecahnya demonstrasi di sebagian wolayah, sampai aksi kekerasan serta kejahatan yang menggila jadi cerminan getir serta menyedihkan dari pengalaman Indonesia yang sempat hadapi krisis moneter pada akhir- akhir periode pemerintahan orde baru.

Kemudian, bila berhubungan dengan fenomena yang terjalin di negeri Sri Lanka, apa yang terjalin dengan negeri tersebut? serta Hingga separah apa krisis yang terjalin sampai banyak media di Indonesia memberitakan kebangkrutan negeri yang mempunyai Bunda Kota Negeri bernama Kolombo, Sri Jayawardennapura Kotte tersebut?

Sri Lanka Bangkrut Karena Salah prioritas

Pemerintah Sri Lanka sudah menjadikan zona pariwisata selaku pemasukan ekonomi utama sehingga dampaknya jadi salah perhitungan. Dikala pandemi menyerang serta seluruh kegiatan ekspedisi antarkota serta negeri jadi sangat terbatas, serta imbasnya Sri Lanka wajib hadapi kerugian yang banyak.

Mengandalkan bisnis pariwisata di masa pandemi sangatlah berisiko. Tahun 2020 serta 2021, pemasukan pariwisata buat negeri Sr Lanka menyusut ekstrem dari tahun lebih dahulu. Apalagi, kehadiran wisatawan internasional pernah turun jadi nol.

Baca juga  Cara Mengelola Gaji untuk Menabung dan Bayar Asuransi

Informasi dari ceidata. com, di tahun 2021, Sri Lanka cuma memperoleh USD mn 261. 416. Sebaliknya pada tahun 2018, Sri Lanka sanggup mencapai pemasukan negeri sampai USD mn 4. 380. 628.

Seperti itu sebagian pemicu yang jadi faktor timbulnya krisis ekonomi di negeri Sri Lanka serta sekalian membagikan cerminan universal tentang apa yang sesungguhnya terjalin di Negeri tersebut

Selain karena salah priorita, juga disebabkan oleh tiga hal, yaitu: dampak pandemi Covid-19, utang luar negeri yang tambah tajam, dan proyek elegan nan ambisius mangkrak.

1. Dampak Pandemi Covid- 19

Sri Lanka Bangkrut. Dalam kurun waktu tahun terakhir, nyaris segala negra di dunia sudah ikut serta langsung mempertahankan keberlangsungan hidup warga di negaranya dalam upaya melawan pandemi covid- 19. 

Sampai bertepatan pada 26 Juni 2022 saja mengutip dari halaman Our World in Informasi, data permasalahan baru serta kematian akibat wabah covid- 19 sudah menggapai total 543 juta permasalahan, sedangkan korban wafat dunia akibat virus tersebut menggapai angka 6, 33 juta. 

Sebagian negeri dari bermacam daratan mulai dari eropa, asia, amerika, afrika, sampai daratan australia juga sebagian besar ikut serta dalam upaya melawan pandemi covid- 19. Tidak terkecuali negeri Sri Lanka, bermacam kebijakan serta upaya sudah dicoba pemerintahan negeri tersebut demi bisa bertahan. Kebijakan yang dikeluarkan di antara lain dengan memencet banyak pendanaan serta subsidi kepada masyarakatnya dalam mengalami pandemi.

Sementara itu bila memandang dari rekam jejaknya, pemerintahan Sri Lanka sendiri baru tercipta secara resmi pada tahun 2019. Tetapi, tidak berselang lama pemerintahan tersebut berjalan, pandemi seketika menyerang serta membuat para negarawan yang terdapat di dalam pemerintahan tersebut ketar- ketir mengalami suasana darurat di dini pandemi.

Baca juga  Membangkitkan Pemikiran Kritis Mahasiswa dengan Literasi

Dampaknya, subsidi besar- besaran yan diberikan kepada masyarkat juga dicabut secara keseuruhan serta perihal tersebut berakibat pada keluhan yang rusak di sana- sini dari warga. Krisis pangan yang meluas serta pengambilan kebijakan yang kurang pas seolah mejadi faktor kian buruknnya kondisi negeri Sri Lanka dalam mengalami suasana pandemi Covid- 19.

2. Utang Luar Negeri yang Bertambah Tajam

Sri Lanka hadapi krisis ekonomi terburuk semenjak merdeka dari Inggris pada tahun 1948. Negeri di Asia Selatan itu kandas membayar utang luar negara yang terus membesar sampai imbasnya negeri berpenduduk dekat 21, 92 juta orang pada tahun 2020 tersebut dikatakan bangkrut.

Negeri Sri Lanka dikabarkan sudah kandas membayar utang luar negerinya sebesar US$ 51 miliyar ataupun bila dirupiahkan dekat Rp 729 trilliun (kurs Rp 14. 300).

Kemudian kenapa negeri tersebut kandas membayar utangya? Pemicu sangat utama dialami di dikala pandemi Covid- 19 menyerang, nyaris 22 juta penduduk di negeri tersebut hadapi kekurangan bahan santapan, bahan bakar minyak (BB), dan pemadaman listrik berkelanjutan. 

Sehingga, pemerintah dalam perihal ini berkolaborasi dengan Bank Central Sri Lanka melaksanakan upaya lain ialah berupaya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negara serta mengesampingkan kewajiban mencicil utang luar negara yang kebanyakan didapatkan dari Tiongkok semacam dilansir dari pihak pemimpin Bank Central Sri Lanka (pada waktu setempat).

3. Proyek elegan nan ambisius mangkrak

Sri Lanka Bangkrut. Bila mendengar kata mangkrak, pasti dibenak kita hendak teringat dengan satu isu yang sempat viral di Indonesia ialah wisma atlet. Namun, kita tidak hendak mangulas tentang proyek mangkraknya proyek wisma atlet di Indonesia yang sempat mangkrak. Melainkan hendak mangulas tentang kebijakan Sri Lanka yang sudah menghabiskan bayak duit buat membangun proyek infrastruktur yang berasal dari pinjaman Cina sehingga ini membuat utang negeri Sri Lanka makin menumpuk.

Baca juga  Petani Tebu dan Pentingnya Modal untuk Keberlangsungan Produksi

Pembangunan suatu pelabuhan besar di Sri Lanka telah jadi beban keuangan sejak mulai beroperasi. Kerugian yang estimasi menggapai angka Rp 4, 4 trilliun dalam kurun waktu 6 tahun. Tidak hanya itu, pembangunan lapangan terbang senilai Rp 3 trilliun yang pernah hadapi macet sebab pihak pemerintah yang tidak sanggup membayar tagihan listrik pula menaikkan buruknya situasi ekonomi negeri tersebut.