Saraswanti Indoland Development – The End of IPO Gorengan Era

Saraswanti Indoland Development - The End of IPO Gorengan Era
Saraswanti Indoland Development - The End of IPO Gorengan Era

NUSA Online Saraswanti Indoland Development (SWID) – The End of IPO Gorengan Era. Gara- gara peraturan terkini tentang IPO, Nomor.: Kep- 00101/ BEI/ 12- 2021 tentang” Perubahan Peraturan No I- A tentang Pencatatan Saham Dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham Yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat”; Saat ini IPO jadi tidak seru lagi, walaupun demikian IPO terus menjadi lebih sehat.

Karena emiten boleh melepas saham IPO dalam persentase yang sangat kecil, bila$NPII IPO- nya berhasil, bisa jadi tercatat selaku IPO yang sangat kecil melepas saham baru ke market cuma sebanyak 0, 73%, rekor lebih dahulu dipegang GOTO yang cuman melepas 3, 43%.

Peraturan terkini tersebut mengendalikan jumlah minimum saham IPO dalam satuan lembar yang wajib dijual ke masyrakat. Ialah, jika emiten hasrat ingin masuk ke” papan utama” jumlah saham IPO minimum= 3 juta lot, serta” papan pengembang”= 1, 5 juta lot, apalagi pada” papan akslerasi”= tidak diatur.

Ketentuan baru yang timbul menjelang IPO$GOTO sangat kental demi suksesnya IPO GOTO.

Kemudian apa konsekuensinya? Emiten bisa mencetak saham baru buat IPO dengan metode merendahkan nilai nominal saham (contoh ekstrim GOTO= Rp. 1 per lembar), ataupun sebutan populernya “stock split” tanpa wajib menginjeksikan modal baru buat memperbesar jumlah saham.

Dengan peraturan baru tersebut, buat mencetak saham baru yang hendak dijual ke publik jadi tidak butuh banyak- banyak lagi. Lumayan mencetak 1, 5 juta lot telah lebih dari lumayan buat menaikan status perusahaandari tertutup” jadi” tbk”.

Dampaknya, emiten tidak sangat susah mencari pembeli strategis” stand by buyer” cuma buat meresap saham 1, 5 juta lot, apalagi masyarkat kalangan retjeh bisa jadi telah lebih dari lumayan buat meresap segala saham IPO,” pelan- by- pelan”. Walhasil, bagi aku, mayoritas IPO sehabis keluarnya peraturan tersebut merupakan IPO real. Jikapun digoreng, usia gorengan- nya relative pendek.

Baca juga  Membangkitkan Pemikiran Kritis Mahasiswa dengan Literasi

Bila kamu giat, kamu hendak memandang gorengan $NANO $BAUT NTBK yang mana emiten tersebut IPO sehabis peraturan baru keluar, hingga hasilnya jeblok, harga naik cuman buat pancingan saat sebelum distribusi seratus persen kepada publik diawali.

Saat ini, hendak tiba lagi pendatang baru SWID (Saraswanti Indoland Development) yang rencanyanya cuma melepas sebanyak 3, 4 juta lot ataupun setara dengan kepemilikan 6%, serta cuma mengharapkan dana dari warga sebanyak- banyaknya Rp. 68 miliyar. Dalam rangka mencetak saham baru emiten ini cuma melaksanakan; (1) stock split sehingga harga nominal saham Rp. 20 serta (2) mengkapitalisasi “laba ditahan” jadi “saham baru”. (3) setoran modal sedikit duit Rp. 900 juta.

Sehingga tercetaklah saham baru menjelang IPO sebanyak 47, 95 juta lot, yang setelah itu dibeli oleh PSP senilai Rp. 95, 9 miliyar.

Namun, jangan bandingkan dengan publik yang hendak membeli saham baru (IPO) sebanyak 3, 4 juta lot, pada harga semurah- murahnya Rp. 61, 2 miliyar.

Dengan nilai IPO sekecil itu, jumlah kalangan retjeh publik yang bermunculan semacam jamur dimusim hujan, rasanya tidak hendak susah meresap saham IPO, walaupun pelan- by- pelan.

Jadi silahkan berspekulasi……….. mudah- mudahan berguna.