Jadi Perantau Sebagai Pelajar, Harus Tegar Jalani Rintangan

Jadi Perantau Sebagai Pelajar, Harus Tegar Jalani Rintangan
Jadi Perantau Sebagai Pelajar, Harus Tegar Jalani Rintangan

 NUSA OnlineJadi Perantau Sebagai Pelajar, Harus Tegar Jalani Rintangan. Semenjak aku lulus dari SMP, aku memanglah mau sekolah di luar kota. Walaupun di Semarang, kota asal aku terdapat SMA serta SPG (Sekolah Pembelajaran Guru), namun aku mendaftar di SMA Tengaran Kabupaten Semarang serta di SPG Negara di kota Salatiga.

Aku diterima di SPGN Salatiga tahun ajaran 1980/ 1981. Aku bahagia sekali sebab seperti itu kemauan aku dapat belajar di luar kota serta sekalian belajar hidup mandiri jauh dari orang tua.

Salatiga memanglah kota yang mendebarkan untuk aku. Aku lahir di Salatiga serta banyak sanak famili yang tinggal di kota Salatiga serta sekitarnya.

Keluarga besar kami berasal dari wilayah Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang yang bersebelahan dengan Kodya Salatiga. Kami kerap menyebutnya Suruh- Salatiga.

Lulus dari SPGN Salatiga, aku melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Semula memanglah cuma mau jadi guru SD, namun seketika saja berkeinginan jadi guru sekolah menengah.

Perihal ini gara- gara dipicu oleh pemikiran, betapa lebih santainya ya hidup jadi guru sekolah menengah daripada jadi guru SD? Alasannya, sesuatu kala pelajaran matematika.

Pak Untung guru kami sehabis menulis soal di papan tulis, sedangkan murid- murid mengerjakan, ia duduk di balik sembari bermain harmonika. Betapa santainya.

Bila dibandingkan mengajar di SD terlebih di TK, wajib telaten dengan anak didik. Baik di SD ataupun di TK, aku telah sempat praktek mengajar di situ.

Jadi Perantau Sebagai Pelajar, Upaya Temukan Beasiswa

Jadi Perantau Sebagai Pelajar. Sehabis satu tahun hidup dengan keluarga budhe, setelah itu tahun kedua serta ketiga aku tinggal di asrama putra sekolah kami. Jika tidak salah, tiap bulannya, buat duit makan kami membayar 18 ribu rupiah.

Di tahun 1981- 1983 duit beberapa itu masih bisa digunakan hidup sebulan di asrama. Kewajiban kami di asrama, malam hari wajib belajar serta melakukan tugas- tugas yang telah terjadwal baik dalam perihal kebersihan ataupun piket mengambil santapan dari dapur universal.

Baca juga  Investasi dan Pendapatan Nasional, Ini Pengaruhnya

Aku merasa tidak pintar- pintar amat jadi seseorang siswa. Namun bersyukur dikala itu menemukan beasiswa Supersemar tiap bulannya. Aku tahunya menemukan beasiswa Supersemar itu begini.

Sehabis sebagian waktu pengajuan, aku lagi belajar di kelas. Setelah itu terdengar suara batuk di luar kelas, serta aku hafal betul itu suara batuk bunda aku. Nyatanya benar, bunda aku dipanggil buat mengambil beasiswa yang aku miliki.

Hidup di rantau dikala itu memanglah wajib belajar buat mengirit keuangan. Urusan santapan, kami telah tercukupi di asrama.

Buat pembelian perlengkapan mandi serta jajanan membiasakan dengan keuangan. Kadangkala kami berjalan ke kota bersama- sama, jika tidak terdapat duit ya cuma berjalan- jalan saja.

Sempat di sebelah sekolah terdapat suatu lapangan Kridanggo namanya diadakan pasar malam. Kami kanak- kanak asrama, sebab lagi tidak memiliki duit, cuma dapat menyaksikan dari pintu loket saja.

Jadi Perantau Sebagai Pelajar, Bekerja Sambilan

Jadi Perantau Sebagai Pelajar. Lulus dari SPG tahun 1983, aku langsung mendaftar Sipenmaru (Pilih Penerimaan Mahasiswa Baru). Ringkasnya aku diterima di Universitas Sebelas Maret Fakultas Keguruan serta Ilmu Pembelajaran Prodi Bahasa serta Sastra Indonesia. Perihal ini cocok dengan yang aku harapkan, dapat melanjutkan sekolah bagian pembelajaran serta di luar kota.

Wah aku bakal jadi guru sekolah menengah beneran nih, nanti aku dapat kasih soal murid di papan tulis, setelah itu aku hendak meniru guru matematika duduk di balik setelah itu bermain harmonika.

Tantangan kuliah di kota Solo lumayan berat. Ekonomi keluarga pas- pasan, sedangkan orang tua masih wajib menghidupi 5 orang adik- adik yang perlu bayaran sekolah.

Bunda aku berjualan beberapa barang kebutuhan dapur di pasar serta bapak bekerja selaku pemborong bangunan.

Aku setelah itu mengajukan beasiswa, puji syukur kepada Tuhan, aku memperoleh beasiswa dari Pusat Pengembangan Bahasa hingga sebagian semester. Buat menghidupi kuliah, aku berupaya bekerja sambilan. Kebetulan terdapat rekan kuliah yang jadi agen kacang bandung.

Baca juga  Self Control dan Penting Memahami Manfaatnya dalam Kehidupan

Aku setelah itu dengan berjalan kaki dari kantin fakultas satu ke kantin fakultas yang lain buat menitip kacang bandung itu. Seminggu setelah itu aku hendak datangi kantin- kantin itu, totalan berapa yang laku serta aku beri kacang bandung yang baru.

Tidak hanya itu aku pula berupaya menulis cerpen di media pesan berita lokal serta menolong menulis reportase buat koran- koran lokal tersebut. Waktu itu aku menulis di koran lokal Solo Dharmanyata dan koran lokal Semarang Suara Merdeka serta Setiap hari Sore Pengetahuan.

Pengalaman yang tidak terlupakan dikala menolong penyusunan koran itu merupakan dikala seketika saja di suatu konser rock di auditorium kampus, aku berjumpa dengan Dono Warkop yang kebetulan nonton konser itu. Jadilah aku mewawancarainya serta dilansir di koran Dharmanyata.

Menjelang akhir kuliah, aku menolong nenek mengelola kos- kosan putra di Semarang. Kebetulan dikala itu ramai- ramainya anak kost di wilayah kampus IKIP Semarang yang masih beralamatkan di jalur Kelud Raya Semarang.

Saat ini kampus IKIP berpindah di wilayah Gunung Pati serta nama kampus berganti jadi UNES (Universitas Negeri Semarang).

Sempat mempunyai pengalaman lucu dikala mencari pekerjaan sambilan. Aku membaca kolom lowongan pekerjaan. Ditulis diperlukan SPG. Kemudian aku bingung dan mempersiapkan lamaran, sebab aku lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Aku tidak ketahui dikala itu bila SPG yang dimaksudkan merupakan sales promotion girl. Yang diperlukan oleh industri itu bukan orang yang lulus sekolah guru, namun wanita muda yang bisa memasarkan bahan- bahan mereka. Oh bawah, hehehe…

Meningkatkan Talenta

Dalam upaya meningkatkan talenta, aku bersama rekan membuat majalah bilik, setelah itu membuat majalah prodi yang metode mencetaknya terbuat dengan fotocopy, namanya Serunai. Setelah itu tumbuh mengelola majalah pembelajaran kampus yang dikala itu bernama Motivasi.

Baca juga  Hargai Mereka yang Telah Berusaha, Jangan Remehkan!

Lebih dahulu koran kampus kami bernama Inovasi, namun sebab menulis perihal yang sensitif, hingga dibredel pihak kampus. Setelah itu terbitlah majalah Motivasi, di mana aku yang jadi pemimpin redaksinya.

Pada dikala seperti itu, aku mulai menganjurkan biar mahasiswa membayar duit pers kampus. Dengan demikian jalannya penerbitan mudah dari segi keuangan, bisa jadi sebutan duit pers kampus masih terdapat di UNS hingga saat ini ini.

Dikala mengelola majalah Serunai kami mempunyai pengalaman yang dikala itu untuk aku luar biasa. Dikala lagi ramai- ramainya perdebatan sastra kontekstual, di mana Arief Budiman serta Ariel Heryanto dosen UKSW Salatiga jadi ikon, hingga aku berniat mewawancarai mereka.

Hasil wawancara itu dimasukkan ke dalam antologi novel Perdebatan Sastra Kontekstual di mana Ariel Heryanto jadi editornya.

Memupuk Kerohanian

Hidup di rantau, walaupun keuangan sangat terbatas jangan hingga terkungkung sehingga tidak dapat memperluas persahabatan serta meningkatkan kerohanian.

Di UNS, dibentuk bermacam tempat ibadah ialah masjid kampus, pura kampus serta gereja kampus yang kerap kami pendek gerpus. Bersama sebagian rekan aku setelah itu membuat suatu persekutuan mahasiswa, aku ditunjuk selaku ketuanya.

Kami setelah itu membuat persekutuan secara teratur, paling tidak seminggu sekali serta tempat persekutuan itu di gereja kampus. Dari persekutuan inilah setelah itu aku memahami seseorang mahasiswi prodi akuntansi yang setelah itu kami menjalakan ikatan, serta sehabis kami berakhir kuliah dan bekerja setelah itu kami menikah.

Suatu ending yang indah, bukan? Tiap kali berdialog sekolah di rantau, memanglah banyak sedihnya sebab keterbatasan duit sehingga wajib menahan diri terhadap beragam kesenangan.

Namun bila setelah itu mengenang pada dikala seperti itu berjumpa seseorang sahabat hidup yang ingin menerima diri ini apa terdapatnya serta mengawali hidup berkeluarga dengan penuh kesahajaan, hingga mengenang masa- masa perantauan jadi masa-masa yang sangat menyenangkan!